Download

Rabu, 27 Maret 2013

Tips Memilih Mode Metering yang Tepat

0 komentar Diposting oleh A'an Setiawan at Rabu, Maret 27, 2013
Banyak dari kita yang masih belum mantap dalam memilih mode metering yang digunakannya saat memotret. Padahal mode metering adalah fitur standar kamera digital, bahkan hingga kamera ponsel modern pun kini sudah menyediakan fitur ini. Kali ini saya coba membuat tulisan soal tips memilih mode metering yang tepat, dengan harapan kita bisa mendapat foto dengan eksposure yang baik di setiap kondisi pencahayaan.

Fotografi adalah bermain dengan cahaya, dimana kendali akan cahaya ditentukan dari tiga komponen eksposure yaitu shutter, aperture dan ISO. Dalam menentukan nilai eksposure ini, kamera mengukur intensitas cahaya yang masuk melalui lensa dan proses ini dinamakan dengan istilah metering. Pada prinsipnya kamera akan berupaya menjaga eksposure yang pas dimana foto yang dihasilkan memiliki area gelap (shadow), area tengah/grey (midtone) dan area terang (highlight) yang berimbang. Tidak seperti mata manusia, sensor pada kamera digital (atau film pada kamera analog) punya rentang sensitivitas terhadap cahaya yang tidak terlalu lebar sehingga ada saja kasus dimana kamera gagal mereproduksi kondisi aktual di lapangan dalam sebuah foto. Contoh yang paling mudah ditemui adalah terjadinya highlight clipping atau area terang yang detailnya sudah hilang dan ini sering dijumpai pada foto dengan kontras tinggi. Sebaliknya, sebuah foto bisa dikatakan tidak tepat eksposurenya bila banyak area shadow yang terlalu gelap sehingga bisa dibilang under-eksposure.
metering_1
Pilihan mode metering disediakan untuk mengakomodir berbagai kondisi pemotretan yang pasti punya banyak variasi pencahayaan, mulai dari siang terik, kontras tinggi hingga tempat yang kurang cahaya. Pilihan mode yang umum dijumpai pada kebanyakan kamera digital yaitu :
  • multi segment/evaluative/matrix : mengukur cahaya pada keseluruhan bidang foto
  • center weight : mengukur cahaya dengan prioritas utama pada area tengah foto
  • spot : hanya mengukur cahaya di titik kecil tertentu dan mengabaikan cahaya di area lainnya
Kita kupas satu per satu ya….

matrix

Pada mode metering yang pertama, yaitu multi segment/evaluative/matrix metering, kamera menentukan eksposure berdasarkan perata-rataan pengukuran cahaya di seluruh bidang foto.  Caranya, sensor pada modul light meter dibagi ke dalam beberapa area kecil lantas kamera mengukur intensitas cahaya di tiap-tiap area tadi. Selanjutnya kamera akan mengkalkulasi rata-rata dari intensitas cahaya dan menentukan eksposure yang sesuai. Inilah mode yang dianggap paling memberikan eksposure yang paling tepat dan punya akurasi yang tinggi.

Pada mode ini, semakin banyak area yang menjadi referensi pengukuran maka akan semakin presisi hasil perhitungannya, dan semakin kecil resiko metering kamera meleset. Mode ini jadi mode ‘default’ untuk kebanyakan situasi pemotretan dan bisa diandalkan untuk dipakai sehari-hari. Masalahnya, ada situasi dimana mode ini bisa tertipu, seperti saat ada cahaya yang lebih terang diluar objek foto dan bisa mengacaukan kalkulasi kamera.

center weight

Di mode kedua, yaitu center weight, kamera masih mengandalkan pengukuran dari banyak area sensor namun lebih memprioritaskan pengukuran pada bidang tengah foto dan cenderung mengabaikan intensitas cahaya di luar area tengah itu. Dengan memakai mode metering ini, area tengah yang umumnya jadi subjek foto, bisa mendapat eksposure yang lebih tepat. Mode ini cocok untuk potret wajah atau kebutuhan lain yang memang mementingkan eksposure yang tepat pada bagian tengah foto. Namun untuk foto landscape, mode ini kurang cocok karena pada foto landscape tiap bagian pada foto punya arti yang sama pentingnya.
spot
Di mode ketiga yang bernama spot metering ini kamera hanya mengukur cahaya pada sebidang titik kecil (sekitar 5% dari bidang foto) dan akan mengabaikan 95% area selain titik tadi. Mode ini berguna untuk memotret di tempat yang pencahayaannya amat kompleks dimana bila tidak memakai mode spot maka tidak akan didapat eksposure yang sesuai. Pada kamera DSLR, spot meter bisa disinkronkan dengan titik AF yang ada sehingga kamera akan mengukur spot meter pada titik AF yang dipilih (tidak selalu harus ditengah).
Kasus yang umum membutuhkan kita untuk memakai spot meter adalah saat keseluruhan bidang foto lebih terang atau lebih gelap dari objek yang akan difoto. Namun bila salah memakai mode ini, foto yang dihasilkan bisa jadi terlalu terang atau gelap, maka itu perlu banyak berlatih.
Perlu diingat bahwa nilai eksposure tidak ada standar pasti. Kita hanya mengandalkan mata untuk menilai apakah foto yang dihasilkan sudah memiliki eksposure yang tepat (kadang foto yang agak gelap atau agak terang tidak berarti foto itu gagal). Bila menurut kita ternyata foto yang dihasilkan oleh kamera belum sesuai dengan keinginan, bisa dikompensasikan dengan kompensasi eksposure (Ev) ke arah negatif (lebih gelap) atau positif (lebih terang). Bisa juga bermain kuncian eksposure (exposure lock), bila kita ingin berkreasi lebih kreatif lagi..
Jadi, tips yang saya bisa sharing disini :
  • mode evaluative/matrix cocok untuk dipakai sehari-hari, apalagi bila area yang difoto relatif rata pencahayaannya
  • bila ingin mendapat akurasi eksposure yang baik di bagian tengah foto, gunakan center weight
  • center weight juga cocok dipakai bila ada backlight di belakang objek foto
  • gunakan spot meter bila kita gagal mendapat eksposure yang tepat pada objek foto memakai mode lainnya
  • bila kamera anda tidak ada mode spot meter, alternatifnya gunakan partial metering (seperti EOS 1000D)
  • bila eksposure yang diberikan kamera masih belum memuaskan, siasati dengan bermain Ev ke arah plus (terang) atau minus (gelap)
  • banyak berlatih dengan berbagai mode metering dan amati perbedaannya.
Sumber: http://kamera-gue.web.id

Read More »

Senin, 25 Maret 2013

memahami white balance

0 komentar Diposting oleh A'an Setiawan at Senin, Maret 25, 2013
Sebuah benda berwarna putih akan tetap tampak putih di mata kita walau disinari cahaya kekuningan. Itu terjadi karena mata kita melakukan adaptasi, juga nalar kita membantu memberi tahu bahwa benda yang kita lihat berwarna putih. Namun, kalau benda berwarna putih itu disinari cahaya kekuningan lalu difoto, benda itu akan tampak berwarna kekuningan pada fotonya. Tidak putih lagi.
Hal itu terjadi karena kamera tidaklah berpikir. Dia hanya merekam apa adanya. Kalau putih akan dia rekam putih, dan kalau merah akan dia rekam merah. Kamera tidaklah peduli dari mana warna itu datang: apakah warna asli ataukah warna akibat cahaya yang datang.
Atas dasar inilah, dalam dunia fotografi digital dikenal adanya penyesuaian pada warna putih ini, yang dikenal dengan istilah white balance atau biasa disingkat WB. Penyesuaian ini dilakukan agar benda berwarna putih akan terekam putih dengan cahaya berwarna apa pun.
Keaslian warna sangat penting pada foto-foto yang membutuhkan akurasi warna seperti foto kain, lukisan, dan benda komersial lain.
Mengapa putih?
Alasan mengapa warna putih yang dipilih sebagai dasar koreksi adalah karena hanya warna ini yang absolut pada perubahan. Diberi cahaya kuning dia akan jadi kuning dan seterusnya. Sedangkan warna lain, kalau diberi warna kuning, akan berubah jadi warna baru yang sangat tidak terukur. Masalah terukur ini jadi penting karena kita perlu tolok ukur asli untuk mengoreksi agar warna bisa kembali ke aslinya. Hanya warna putih yang akurat. Tak ada putih muda, putih tua, putih kekuningan, atau putih kehijauan. Putih ya putih, titik.
Dalam sebuah kamera digital, ada fungsi pengaturan WB ( white balance ). Pengaturan ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan cahaya yang kita pakai. Kalau pengaturan benar, warna pada foto kita akan akurat.
Pada kamera amatir, pengaturan semata berdasarkan simbol-simbol. Pilihlah simbol matahari kalau cahaya yang menyinari foto kita adalah cahaya matahari. Pilihlah simbol lampu pijar kalau memang cahaya yang menyinari foto kita adalah cahaya dari lampu pijar, dan seterusnya.
Simbol-simbol lain adalah gambar neon untuk pencahayaan dengan lampu neon, gambar petir untuk pencahayaan dengan lampu kilat, gambar awan untuk pencahayaan pada cuaca berawan, serta gambar rumah yang sebagian tercahayai untuk foto di tempat teduh.
WB otomatis
Ada satu lagi pilihan, yaitu AWB (auto WB, atau WB otomatis) alias berdasarkan kesimpulan sang kamera. Hati-hati dengan pilihan AWB ini karena kamera bisa salah mengambil kesimpulan seperti terlihat pada Foto 2. Pada Foto 2A, cakram kuning terekam kuning pada AWB karena ada putih dan abu-abu yang jadi pembanding. Tapi manakala tidak ada pembanding alias kita memotret cakram kuning dalam jarak sangat dekat, cakram kuning itu akan direkam jadi putih oleh kamera yang diset AWB.
Pada kamera profesional, pengaturan WB bisa dilakukan dengan lebih akurat, yaitu dengan mengatur derajat Kelvin dari cahaya yang mencahayai foto kita. Cahaya matahari siang bersuhu sekitar 5.500 derajat Kelvin, cahaya neon sekitar 4.000 derajat Kelvin, cahaya lampu pijar sekitar 3.000 derajat Kelvin, dan seterusnya.
Kesalahan mengatur derajat Kelvin akan berpengaruh terhadap kesalahan warna pada foto kita. Misalnya kamera diset dengan 3.000 derajat Kelvin (lampu pijar), tapi dipakai memotret pada cahaya matahari, foto yang dihasilkan akan total berwarna kebiru-biruan.
Sebaliknya, kalau kamera diset untuk matahari (5.500 derajat Kelvin), tapi dipakai memotret dalam ruangan yang diterangi lampu pijar, foto yang dihasilkan akan kekuning-kuningan.
Maka, kalau foto kita kekuningan, artinya pengaturan derajat Kelvin kamera kita terlalu tinggi. Turunkanlah pengaturannya, misalnya dari matahari jadi neon, atau dari neon menjadi lampu pijar. Pada pengaturan profesional, kecilkan angka derajat Kelvinnya, misalnya dari 5.000 menjadi 3.000.
Demikian pula sebaliknya. Kalau foto kita kebiruan, ubahlah set kamera kita dari lampu pijar menjadi neon atau dari neon menjadi matahari. Dalam pengaturan profesional, naikkan angka derajat Kelvinnya, misalnya dari 3.000 menjadi 5.000.
Untuk fotografi panggung, pilihlah WB 5.500, alias sama dengan cahaya matahari, agar merah terekam merah dan biru terekam biru.
Pemotretan panggung memang umumnya permainan warna sehingga itu harus direkam apa adanya. Pemilihan WB 5.500 derajat Kelvin adalah titik pilihan agar semua rentang warna bisa terekam dengan baik.
Pada pemotretan pemandangan pagi, ada baiknya pengaturan sengaja dibuat salah. Cahaya pagi bersuhu sekitar 4.500 derajat Kelvin, maka kalau kamera diset ke cahaya matahari, hasil fotonya akan kekuningan. Suasana pagi terekam.
Tapi, untuk hasil yang lebih kuning lagi (kesan hangat), kamera bisa diset ke 6.000 atau bahkan 7.000 derajat Kelvin.

Sumber: http://citrastudio.com
Read More »

Rabu, 06 Maret 2013

Canon Picture Style

0 komentar Diposting oleh A'an Setiawan at Rabu, Maret 06, 2013
Canon Picture Style adalah fitur DSLR Canon moderen yang memungkinkan kita memanipulasi Hue-Saturation-Lightness langsung saat foto diambil. Alhasil JPEG hasil dari kamera langsung diproses sesuai dengan setting yang sudah dibuat sebelumnya. Lihat contoh di bawah ini :
Kolase picture style result Canon Picture Style   InfraRed Emulation
Click for larger image – (dari kiri ke kanan) : Standard – Landscape – Neutral
Kita lihat ketiganya memiliki karakter warna yang sedikit berbeda. Landscape misalnya cenderung agak “reddish/merah” dan menguatkan saturasi warna hijau. Oleh sebab itu picture style ini umumnya saya gunakan untuk memotret pemandangan alam yang kuat unsur hijau & biru. Sedangkan standard cenderung lebih natural, sehingga cocok untuk pemotretan human interest karena skintone yang dihasilkan lebih akurat. Sedangkan neutral tidak melakukan proses terlalu banyak, sehingga cenderung lebih flat dan siap untuk diproses lanjut di komputer.
Canon umumnya menyediakan 6 picture style yang sudah di built-in ke dalam kamera, dan beberapa slot kosong (user defined) untuk kita isi dengan picture style yang ada di web Canon ataupun kita buat sendiri. Cara mengisi slot kosong picture style bisa dibaca di web Canon tersebut. Sedangkan 6 picture style yang sudah disediakan Canon adalah :
Canon Default Pic Style Canon Picture Style   InfraRed Emulation
Canon Default Picture Style
Tapi selain default kita bisa memasukkan sampai dengan 3 custom picture style. Custom picture style ini bisa diperoleh di web Canon, hasil googling dari internet atau membuat sendiri menggunakan picture style editor.
Salah satu fotografer yang baik hati, Pak Ketut Sukandia, bahkan membuat custom picture style yang di bagikan gratis di internet. Custom picture style milik beliau ini unik karena “mensimulasikan” fotografi infrared. Pada prinsipnya beliau menghilangkan saturasi warna hijau dan beberapa warna lain. Sehingga yang tersisa adalah warna-warna dominan seperti merah atau kuning. Akibatnya kalau kita memotret dengan background hijau akan diubah menjadi putih selayaknya fotografi IR.
IR with SKD Canon Picture Style   InfraRed Emulation
Click for larger image
Keduanya merupakan hasil pemotretan langsung dari kamera (JPEG). Foto atas merupakan hasil dari picture style Landscape, sedangkan yang bawah merupakan hasil dari picture style “SKD IM” yang merupakan bagian dari picture style SKD IR yang dibuat oleh Pak Ketut Sukandia. Coba juga lihat beberapa hasil picture style ini :
Kolase result SKD Canon Picture Style   InfraRed Emulation
Click for larger image
Dari kiri atas (searah jarum jam) : Original JPEG menggunakan Landscape Picture Style, SKD IR, SKD IM dan terakhir SKD Godel. Dapat dilihat karakter warna biru dan putih (hasil dari warna hijau) diantara ketiganya sedikit berbeda. Tinggal pilih mana yang diinginkan icon smile Canon Picture Style   InfraRed Emulation
Semua hasil dari picture style tentu saja bisa di buat menggunakan Canon DPP Raw Converter + Adobe Photoshop. Akan tetapi kalau bisa memperpendek workflow kenapa tidak? Less time for post-processing, more time for taking pictures.

Bagi sobat yang ingin mengunduh silahkan klik DOWNLOAD.

Sbr: http://www.motoyuk.com
Read More »

Rabu, 20 Juni 2012

Canon EOS 650D, Kamera DSLR Dengan Layar Sentuh

0 komentar Diposting oleh A'an Setiawan at Rabu, Juni 20, 2012


Canon kembali meluncurkan kamera DSLR terbaru untuk kelas pemula, Canon EOS 650D, mendengar namanya saja anda tentu sudah tahu kamera ini diluncurkan sebagai penerus dari Canon EOS 600D. dilihat secara fisik pun tak ada perbedaan yang mencolok antara EOS 650D ini dengan kakaknya EOS600D. namun dari segi fitur dan teknologi dan fitur EOS 650D banyak mengalami peningkatan.
Peningkatan pertama adalah layar live view yang sudah menggunakan layar sentuh kapasitif, hal ini menjadikan EOS 650D merupakan kamera pertama Canon yang menggunakan layar sentuh. sperti dengan pendahulunya kemampuan layar yang bisa diputar membuat kamera ini semakin menarik. Canon membekalali EOS 650D dengan sensor terbaru APS-C Hybrid CMOS dengan resolusi yang sama dengan EOS 600D yaitu 18 megapixel. Sensor terbaru ini menjadikan sistem autofokus menjadi lebih cepat dan akurat.

Seperti halnya kamera keluaran terbaru lainya dari canon, EOS 650D juga sudah menggunakan prosessor Canon DIGIC 5, dengan menggunakan teknologi prosessor teranyar ini, pemrosesan gambar menjadi lebih baik seperti hasil gambar yang minim noise pada ISO tinggi. kamera ini sendiri mendukung penggunaan ISO hingga 12800. kecepatan yang dimiliki kamera ini dalam memotret gambar per detik juga sudah mumpuni yaitu 5 FPS (frame per second).

Canon EOS 650D dilengkapi dengan fitu-fitur yang akan memanjakan kita sebagai fotografer, sperti HDR Backlight, Handheld Night Scene dan Multi Shot Noise Reductions. Khusus untuk fitur terakhir yang saya sebutkan yaitu Multi Shot Noise Reduction itu sangat berguna pada pemotretan di kondisi minim cahaya (low Light), dimana kamera akan menggabungkan 4 foto dengan tingkat exposure berbeda-beda menjadi satu foto dnegan noise yang minim.

Bagi anda yang gemar juga dengan videografi, Canon EOS 650D siap menjadi teman anda dalam membuat sebuah karya video. EOS 650D mempunyai kemampuan untuk merekam video dengan resolusi Full HD 1080p (1080 x 1920 pixel). Ketika merekam sebuah video kita bisa menambahkan sebuah microfon eksternal jika merasa tak puas dnegan kulitas microfon internal bawaaanya. Canon EOS 650D akan bisa kita meiliki dengan harga 8,9 juta rupiah dengan lensa kit 18-55mm IS, atau 8 juta rupiah saja jika ingin membeli body’nya saja.
Read More »

Rabu, 07 Desember 2011

Tips memilih mode metering yang tepat

0 komentar Diposting oleh A'an Setiawan at Rabu, Desember 07, 2011
Banyak dari kita yang masih belum mantap dalam memilih mode metering yang digunakannya saat memotret. Padahal mode metering adalah fitur standar kamera digital, bahkan hingga kamera ponsel modern pun kini sudah menyediakan fitur ini. Kali ini saya coba membuat tulisan soal tips memilih mode metering yang tepat, dengan harapan kita bisa mendapat foto dengan eksposure yang baik di setiap kondisi pencahayaan.
Fotografi adalah bermain dengan cahaya, dimana kendali akan cahaya ditentukan dari tiga komponen eksposure yaitu shutter, aperture dan ISO. Dalam menentukan nilai eksposure ini, kamera mengukur intensitas cahaya yang masuk melalui lensa dan proses ini dinamakan dengan istilah metering. Pada prinsipnya kamera akan berupaya menjaga eksposure yang pas dimana foto yang dihasilkan memiliki area gelap (shadow), area tengah/grey (midtone) dan area terang (highlight) yang berimbang. Tidak seperti mata manusia, sensor pada kamera digital (atau film pada kamera analog) punya rentang sensitivitas terhadap cahaya yang tidak terlalu lebar sehingga ada saja kasus dimana kamera gagal mereproduksi kondisi aktual di lapangan dalam sebuah foto. Contoh yang paling mudah ditemui adalah terjadinya highlight clipping atau area terang yang detailnya sudah hilang dan ini sering dijumpai pada foto dengan kontras tinggi. Sebaliknya, sebuah foto bisa dikatakan tidak tepat eksposurenya bila banyak area shadow yang terlalu gelap sehingga bisa dibilang under-eksposure.
Pilihan mode metering disediakan untuk mengakomodir berbagai kondisi pemotretan yang pasti punya banyak variasi pencahayaan, mulai dari siang terik, kontras tinggi hingga tempat yang kurang cahaya. Pilihan mode yang umum dijumpai pada kebanyakan kamera digital yaitu :
  • multi segment/evaluative/matrix : mengukur cahaya pada keseluruhan bidang foto
  • center weight : mengukur cahaya dengan prioritas utama pada area tengah foto
  • spot : hanya mengukur cahaya di titik kecil tertentu dan mengabaikan cahaya di area lainnya
Kita kupas satu per satu ya….
matrix
Pada mode metering yang pertama, yaitu multi segment/evaluative/matrix metering, kamera menentukan eksposure berdasarkan perata-rataan pengukuran cahaya di seluruh bidang foto.  Caranya, sensor pada modul light meter dibagi ke dalam beberapa area kecil lantas kamera mengukur intensitas cahaya di tiap-tiap area tadi. Selanjutnya kamera akan mengkalkulasi rata-rata dari intensitas cahaya dan menentukan eksposure yang sesuai. Inilah mode yang dianggap paling memberikan eksposure yang paling tepat dan punya akurasi yang tinggi.
Pada mode ini, semakin banyak area yang menjadi referensi pengukuran maka akan semakin presisi hasil perhitungannya, dan semakin kecil resiko metering kamera meleset. Mode ini jadi mode ‘default’ untuk kebanyakan situasi pemotretan dan bisa diandalkan untuk dipakai sehari-hari. Masalahnya, ada situasi dimana mode ini bisa tertipu, seperti saat ada cahaya yang lebih terang diluar objek foto dan bisa mengacaukan kalkulasi kamera.
center weight
Di mode kedua, yaitu center weight, kamera masih mengandalkan pengukuran dari banyak area sensor namun lebih memprioritaskan pengukuran pada bidang tengah foto dan cenderung mengabaikan intensitas cahaya di luar area tengah itu. Dengan memakai mode metering ini, area tengah yang umumnya jadi subjek foto, bisa mendapat eksposure yang lebih tepat. Mode ini cocok untuk potret wajah atau kebutuhan lain yang memang mementingkan eksposure yang tepat pada bagian tengah foto. Namun untuk foto landscape, mode ini kurang cocok karena pada foto landscape tiap bagian pada foto punya arti yang sama pentingnya.
spot
Di mode ketiga yang bernama spot metering ini kamera hanya mengukur cahaya pada sebidang titik kecil (sekitar 5% dari bidang foto) dan akan mengabaikan 95% area selain titik tadi. Mode ini berguna untuk memotret di tempat yang pencahayaannya amat kompleks dimana bila tidak memakai mode spot maka tidak akan didapat eksposure yang sesuai. Pada kamera DSLR, spot meter bisa disinkronkan dengan titik AF yang ada sehingga kamera akan mengukur spot meter pada titik AF yang dipilih (tidak selalu harus ditengah).
Kasus yang umum membutuhkan kita untuk memakai spot meter adalah saat keseluruhan bidang foto lebih terang atau lebih gelap dari objek yang akan difoto. Namun bila salah memakai mode ini, foto yang dihasilkan bisa jadi terlalu terang atau gelap, maka itu perlu banyak berlatih.
Perlu diingat bahwa nilai eksposure tidak ada standar pasti. Kita hanya mengandalkan mata untuk menilai apakah foto yang dihasilkan sudah memiliki eksposure yang tepat (kadang foto yang agak gelap atau agak terang tidak berarti foto itu gagal). Bila menurut kita ternyata foto yang dihasilkan oleh kamera belum sesuai dengan keinginan, bisa dikompensasikan dengan kompensasi eksposure (Ev) ke arah negatif (lebih gelap) atau positif (lebih terang). Bisa juga bermain kuncian eksposure (exposure lock), bila kita ingin berkreasi lebih kreatif lagi..
Jadi, tips yang saya bisa sharing disini :
  • mode evaluative/matrix cocok untuk dipakai sehari-hari, apalagi bila area yang difoto relatif rata pencahayaannya
  • bila ingin mendapat akurasi eksposure yang baik di bagian tengah foto, gunakan center weight
  • center weight juga cocok dipakai bila ada backlight di belakang objek foto
  • gunakan spot meter bila kita gagal mendapat eksposure yang tepat pada objek foto memakai mode lainnya
  • bila kamera anda tidak ada mode spot meter, alternatifnya gunakan partial metering (seperti EOS 1000D)
  • bila eksposure yang diberikan kamera masih belum memuaskan, siasati dengan bermain Ev ke arah plus (terang) atau minus (gelap)
  • banyak berlatih dengan berbagai mode metering dan amati perbedaannya
Read More »

Minggu, 20 November 2011

Istilah-istilah pada lensa Nikon

0 komentar Diposting oleh A'an Setiawan at Minggu, November 20, 2011

Istilah-istilah pada lensa Nikon

Pemakai kamera SLR digital Nikon sebagian besar tentunya juga memakai lensa Nikon. Hal ini karena lensa Nikon memiliki kualitas optik yang amat baik dan tentunya banyak pilihan lensa yang tersedia. Dengan semakin berkembangnya teknologi lensa, kini istilah yang biasa dipakai pada lensa Nikon semakin banyak dan terkadang membingungkan untuk sebagian orang.
18-200
Sebagai contoh, bagaimana maksud dari istilah lensa Nikkor AF-S DX 18-200mm 1:3.5-5.6G VR IF ED? Barangkali catatan kecil ini ada gunanya.
  • Nikkor : Nama untuk lensa buatan Nikon.
  • AF-S : Lensa Nikon yang memiliki motor ‘SWM’ sehingga proses auto fokus dilakukan di lensa, bukan pada bodi kamera. Lensa AF-S diyakini lebih cepat dan akurat dalam urusan auto fokus dibanding lensa AF lainnya.
  • DX : Lensa Nikon khusus untuk DSLR Nikon berformat DX (memiliki sensor APS-C). Lensa ini memiliki lingkar gambar lebih kecil dari lensa Nikon lain, sehingga memiliki ukuran yang juga lebih kecil. Apabila lensa ini dipasang pada DSLR Nikon berformat FX seperti Nikon D3, maka akan terjadi vignetting.
  • G : Menyatakan ketiadaan aperture ring pada lensa. Pemilihan nilai aperture hanya bisa dilakukan melalui dial kamera (kamera SLR Nikon lama tidak kompatibel dengan lensa G ini).
  • VR : Vibration Reduction, teknologi stabilizer pada lensa untuk meminimalisir getaran tangan saat memotret pada kecepatan rendah. Dengan memakai lensa VR kemungkinan gambar blur dapat dihindari karena elemen VR akan mengkompensasi getaran, kemampuannya hingga 3-4 stop.
  • IF : Internal Focusing, proses auto fokus terjadi didalam lensa sehingga tidak ada bagian luar lensa yang berputar saat lensa mencari fokus. Ini memungkinkan penambahan filter tertentu pada bagian depan lensa.
  • ED : Extra low Dispersion, elemen lensa khusus yang ditujukan meningkatkan kontras dan ketajaman dengan meniadakan penyimpangan warna saat cahaya memasuki bagian lensa / chromatic aberration.
Jadi, lensa tadi memiliki arti lensa Nikon berformat DX yang memiliki motor fokus pada lensa, memiliki jangkauan zoom terdekat di 18mm, terjauh di 200mm dengan diafragma maksimal pada saat wide di f/3.5, terjauh di f/5.6, memiliki teknologi stabilizer VR, tidak memiliki aperture ring, dilengkapi elemen lensa ED dan sistem mekanisme auto fokusnya secara internal. Karena lensa DX dirancang untuk dipasang di kamera Nikon DSLR bersensor APS-C, maka akan terkena crop factor 1,5x sehingga jangkauan efektifnya setara dengan 27-300mm.
Untuk lensa Nikon lainnya, masih banyak istilah lain yang biasa dipakai. Inilah diantaranya :
  • SIC : Super Integrated Coating, lapisan khusus untuk menghilangkan flare saat lensa terkena cahaya matahari.
  • N : Nano crystal coat, lapisan lensa yang juga dipakai untuk mengurangi flare dan ghosting.
  • Asph : Aspherical lens, lensa khusus untuk mengurangi distorsi dan penyimpangan warna.
  • D : Distance information, untuk memberikan informasi tentang jarak objek ke kamera sehingga membantu kerja sistem Matrix metering dan iTTL flash.
  • DC : Defocus Control, untuk mengubah-ubah variasi bokeh sehingga foto portrait dapt memiliki background yang blurnya sesuai.
  • Micro : Istilah untuk lensa khusus makro.
Itulah beberapa istilah dari lensa Nikon, barangkali ada gunanya bagi anda para pemakai dan calon pemakai kamera SLR Nikon.
Read More »

lensa Nikon AF-S 18-105mm VR

0 komentar Diposting oleh A'an Setiawan at Minggu, November 20, 2011

Review : lensa Nikon AF-S 18-105mm VR

Tech tipsComputer Tricks
Lensa Nikon 18-105mm DX yang menjadi lensa kit dari DSLR Nikon D90 keluaran tahun 2008  ini merupakan lensa zoom Nikon kelas ekonomis yang populer karena harganya yang terjangkau, punya rentang fokal yang cukup panjang dan efektif, serta plus fitur VR. Hadirnya lensa ini secara tidak langsung menandakan kalau lensa 18-135mm non VR (kitnya Nikon D80) telah diskontinu, maka tak heran kalau lensa ini kini semakin banyak dicari oleh pemilik DSLR Nikon DX mulai dari D40 hingga D300. Apakah lensa seharga 4 juta (kurang sedikit) ini layak dipertimbangkan sebagai lensa andalan anda? Simak review yang kami buat  selengkapnya.

Pendahuluan

D40 + 18105 
Lensa Nikon 18-105mm f/3.5-5.6g VR ini menjadi lensa zoom Nikon DX terbaru yang lagi-lagi overlap dengan lensa consumer-grade Nikon lainnya (dalam hal rentang fokal), seperti 18-55mm (kitnya D40-D5000), 55-200mm, 18-70mm (kitnya D70), 18-135mm (kitnya D80) dan 18-200mm. Hal ini berbeda dengan yang terjadi di jajaran lensa pro Nikon yang tidak ada overlap, mulai dari 14-24mm, 24-70mm, 70-200mm dan 200-400mm. Banyak pihak yang berharap Nikon akan membuat versi VR dari lensa 18-135mm yang sangat populer di masa lalu, namun ternyata inilah jawaban dari Nikon, lensa 18-105mm VR yang hadir di bulan Agustus 2008, sebagai lensa kit dari Nikon D90.
Beberapa fakta dari lensa 18-105mm diantaranya :
  • rentang fokal lensa yang mencukupi untuk fotografi sehari-hari (equiv. 28-157mm)
  • variable aperture dari f/3.5 hingga f/5.6 (maks) dan f/22 hingga f/38 (min)
  • sistem stabilizer VR
  • optik yang sudah dilengkapi elemen ED dan aspherical, plus SIC coating
  • diameter filter 67 mm
  • mounting dari bahan plastik
  • inner focus, tidak ada elemen di depan lensa yang berputar
  • format DX (tidak untuk DSLR full frame)
  • tanpa fitur kelas pro (distance scale, ring aperture dsb)
Tak bisa dipungkiri, lensa ini memang tergolong sebagai lensa serba-bisa (versatile lens) karena rentang fokalnya, sehingga praktis saat dipakai bepergian tanpa perlu membawa banyak lensa. Lensa ini juga sudah dianggap memenuhi syarat mendasar sebuah lensa modern karena sudah ada VR, pake motor micro untuk AF, ada ED lens dsb. Tapi bagaimana pun lensa 18-105VR ini tetaplah lensa kit yang masih dipandang sebelah mata oleh sebagian dari kita (terlepas harga jualnya yang lumayan mahal untuk ukuran lensa kit). Ada yang bilang kalau lensa ini adalah versi murah dari lensa 18-200VR, dengan harga setengahnya (dan rentang fokal yang juga setengahnya). Namun ada yang bilang juga kalau lensa ini adalah penyempurna lensa 18-135mm yang dilengkapi VR dan sudah meniadakan masalah purple fringing di lensa 18-135mm.
Bicara soal rentang fokal, khususnya di posisi tele, memang fokal lensa kit dari D90 ini punya keunggulan dibanding lensa kit lain yang umumnya berada di kisaran 55mm dan 70mm. Tapi apakah 105mm ini sudah mencukupi untuk kebutuhan tele atau tidak, tentu ini soal lain. Apalagi jika si empunya lensa tidak bermaksud untuk memiliki lensa tele tersendiri, tentu fokal 105mm itu (ekuiv. 157mm) perlu dipertimbangkan lagi apa sudah cukup panjang atau belum. Tapi bila kita merasa 105mm ini sudah cukup, maka lensa ini sudah bisa menjadi lensa utama khususnya untuk pemula. Tak heran meski 18-105VR ini sejatinya adalah lensa kitnya Nikon D90, namun banyak yang membeli lensa ini untuk dipakai di kamera lain mulai dari D40 hingga D300.

Selayang Pandang

Lensa 18-105VR sepintas tampak serupa dengan lensa 18-135mm dengan ukuran yang relatif kecil meski memiliki diameter filter 67mm. Bobot lensa inipun terasa pas, dalam arti tidak ringan (seperti 18-55mm) dan tidak berat juga (seperti 24-70mm) sehingga bila dipasang di kamera DSLR terasa balance. Dalam posisi wide 18mm, tidak ada bagian dari lensa yang menonjol, namun begitu lensa di zoom maka elemen lensa akan memanjang dan akan berada di posisi terpanjang berada pada posisi 105mm. Posisi ring fokus manual berada di sebelah dalam (kebalikan dari lensa kit 18-55mm atau 55-200mm) sehingga terhindar dari resiko terputar secara tidak sengaja (seperti yang terjadi di lensa  24-70mm). Di samping kiri ada dua tuas selektor yaitu tuas manual/auto fokus dan tuas on/off VR. Dalam urusan manual fokus, lensa ini unik karena pada tuas tertulis kode A – M (bukannya M/A – M seperti lensa Nikon yang lebih mahal) namun dalam penggunaan manual fokus kita bisa memutar ring fokus kapan saja tanpa harus menggeser tuas dari posisi A ke posisi M. Gerakan zoom lensa saat di putar terasa kokoh dan tidak ‘enteng’ seperti lensa kit 18-55mm. Lensa buatan Thailand ini memiliki mounting dari plastik sehingga perlu hati-hati saat membawa kamera, jangan menggenggam pada lensanya (supaya tidak patah).

Kinerja

Hanya ada dua hal yang perlu diketahui soal kinerja lensa ini, yaitu kecepatan motor fokus AF-S dan performa stabilizer VR. Kami tidak tahu jenis motor SWM di dalam lensa ini apakah tergolong motor kelas murah (seperti motor SWM di 18-55mm atau 55-200mm) ataukah yang kelas cepat (seperti motor SWM di 18-200mm atau 24-70mm). Anggaplah dengan harga jualnya yang terjangkau, motor AF-S di lensa ini masih memakai motor kelas murah; maka kami rasakan kecepatan penguncian fokus di lensa ini tergolong amat cepat, sekitar setengah detik dalam kondisi ideal. Kinerja mulai menurun saat dipakai di low-light, atau bila kamera mencoba mengunci fokus pada objek foto yang kontrasnya kurang.
Soal stabilizer, sistem VR di lensa ini memang bukanlah sistem VR generasi II yang sanggup bekerja hingga 4 stop. Nikon meng-klaim VR disini hanya bisa 3 stop, meski kenyataannya tentu hasilnya bisa bervariasi. Terdengar suara halus dari dalam lensa saat VR aktif (tombol shutter ditekan setengah) dan efek stabilisasi bisa dirasakan melalui viewfinder optik. Soal hasil pengujian VR di lensa ini bisa dilihat di pengujian di bawah ini.

Kinerja lensa secara umum

Fokal lensa dan bukaan diafragma
Lensa 18-105mm ini punya rentang fokal yang cukup lebar (5,8 x zoom), dengan kemampuan mengambil area yang luas (wideangle) hingga medium tele. Lensa semacam ini tentu amat disukai oleh mereka yang membeli kamera DSLR untuk travelling, karena kemampuannya menjangkau wide hingga tele tadi. Pada posisi lensa 18mm, dengan adanya crop factor kamera Nikon DX maka akan menjadi 27mm dan pada posisi lensa 105 akan menjadi 157,5mm. Untuk mendapat gambaran seperti apa kemampuan rentang fokal ekstrim lensa ini, berikut adalah foto replika candi Borobudur yang diambil dari kejauhan.

18-105

Adapun untuk urusan bukaan diafragma, lensa 18-105mm ini memang tergolong lensa lambat dengan bukaan variabel dari f/3.5 hingga f/5.6. Bagi yang belum mengetahui, lensa zoom ekonomis memang tidak punya bukaan maksimal yang tetap pada seluruh panjang fokal, sebagai gantinya bukaan maksimum lensa akan semakin mengecil seiring perubahan posisi fokal lensa. Sebagai contoh, pada posisi 18mm bukaan maksimal lensa ini adalah f/3.5 namun begitu posisi lensa berubah ke 24mm maka bukaannya maksimalnya turun ke f/4. Yang membuat kami cukup terkejut adalah bahwa lensa ini sudah mencapai bukaan maksimum f/5.6 bahkan pada posisi fokal baru mencapai 70mm, sehingga di rentang 70 – 105mm bukaan maksimumnya sudah stabil di f/5.6. Jadi saran kami, bila anda perlu memasukkan cahaya sangat banyak (ingin bukaan diafragma sebesar mungkin) hindarilah memakai posisi fokal diatas 70mm.
Ketajaman
Sifat alami lensa pada umumnya akan memberi ketajaman maksimal di bukaan sekitar f/8 dan akan soft di bukaan maksimal dan minimal (akibat difraksi), demikian juga halnya dengan ketajaman yang diberikan oleh lensa ini. Karena dengan 15 elemen yang tersusun di dalam sebuah lensa ini, adalah wajar bila ketajaman juga akan berbeda pada tiap posisi fokal, dan lensa akan cenderung lebih soft pada posisi ekstrim di 18mm dan 105mm. Ketajaman juga tampak berkurang di bagian tepi dan ini merupakan konsekuensi memakai lensa DX, bukan suatu masalah bagi yang memakai lensa ini untuk memotret orang/wajah, namun mungkin akan jadi masalah bagi mereka yang memakai lensa ini untuk memotret landscape. Dari hasil pengujian, lensa ini punya optik yang tergolong bagus karena mampu memberi ketajaman dan kontras yang stabil di sepanjang rentang fokal, dengan sedikit penurunan terjadi di posisi 105mm.
Kinerja VR
Kami ingin membuktikan efektivitas stabilizer VR pada lensa ini, dimana VR berfungsi untuk mengkompensasi getaran tangan saat memotret sehingga mencegah foto jadi blur. Sebagaimana yang kita tahu, kamera cenderung akan memberikan hasil foto yang blur akibat getaran tangan yang umumnya terjadi saat shutter terlalu lambat dan/atau fokal lensa terlalu panjang. Di contoh pengujian kali ini, kamimemakai speed 1/10 detik dan posisi fokal lensa 105mm, dimana kombinasi keduanya hampir pasti akan menghasilkan gambar yang blur tanpa VR. Ternyata dengan memakai VR, kami tetap bisa membuat hasil foto yang tajam meski speed yang dipakai itu 3 stop dibawah speed minimum secara teori 1/panjang fokal (fokal 105mm semestinya memakai speed 1/100 detik). Dari pengujian tadi, disimpulkan bahwa VR berfungsi dengan baik dan efektif mencegah foto blur akibat pemakaian shutter lambat dan/atau fokal tele. Sebgai catatan, VR bukan untuk mencegah blur akibat gerakan objek yang difoto, dia hanya mencegah blur akibat gerakan tangan si fotografer. VR juga tidak berdaya untuk speed terlampau rendah (dibawah 1/8 detik) untuk itu gunakan tripod.
18-105VR test

Cacat lensa
Secara fisika, cacat atau penyimpangan optik  memang terpaksa dialami setiap lensa, sebutlah misalnya distorsi, flare, vignetting dan chromatic abberation. Semakin mahal lensa, makin baik kemampuannya dalam meminimalisir cacat yang terjadi. Jadi saat memilih lensa ekonomis, tentu soal cacat lensa ini perlu dikompromikan. Perlu dicatat bahwa cacat lensa yang kami maksud bukanlah cacat dalam manufaktur seperti cacat fokus (front focus/back focus) atau penyimpangan warna/tone.
Lensa 18-105mm merupakan lensa zoom yang rentan terhadap distorsi. Di posisi 18mm, lensa mengalami cacat yang nyata dalam hal distorsi dimana garis jadi tampak melengkung keluar (barrel) dan ini membuat lensa ini tidak cocok untuk urusan foto arsitektur atau interior. Namun begitu kita memakai fokal diatas 18mm, lensa langsung berbalik mengalami distorsi kedalam (pincushion), padahal biasanya pincushion hanya terjadi di posisi tele maksimum. Biasanya untuk mengatasi kelengkungan ini foto harus diolah lagi memakai software komputer.
Saat lensa mendapat sorot matahari dari samping,  sinar matahari akan terpantul-pantul diantara susunan lensa dan menyebabkan flare. Pada lensa ini tampaknya flare dapat diatasi dengan baik sehingga tidak mudah muncul. Demikian juga dengan vignetting atau fall-off atau dark corner, suatu fenomena lensa yang cenderung lebih gelap di bagian pojok, tidak terlalu nampak pada hasil foto aktual. Lensa ini pun kami akui mampu mengatasi fenomena purple fringing atau chromatic abberation, suatu kondisi dimana muncul warna keunguan di bagian foto yang beda kontras amat tinggi. Lensa ekonomis umumnya tak bisa menghindari cacat ini karena sedikitnya pemakaian elemen lensa ED atau elemen aspherical. Kamera modern seperti D90 bisa otomatis menghilangkan cacat ini melalui prosesor di dalam kamera, sementara kamera lawas masih harus menerima hasil dari lensa yang terpasang apa adanya. Pada beberapa kasus lensa ini masih sedikit menampakkan purple fringing meski jauh lebih baik daripada lensa 18-135mm.
Makro
Salah satu hal yang ingin diketahui oleh calon pembeli lensa adalah kemampuan makronya. Lensa 18-105mm punya rasio reproduksi makro 1:5, dan minimum focus distance sejauh 45 cm. Tidak ada tuas selektor macro di lensa ini, menandakan memang lensa ini tidak ditujukan untuk keperluan fotografi makro. Namun untuk kebutuhan makro sekedarnya, lensa ini masih bisa diandalkan.
DSC_2950a
Tampak 100% crop dari sebuah micro SD card yang masih tampak tajam dan detil, diambil dari jarak sekitar 50 cm dari objek. Lumayan untuk ukuran lensa non makro.
Bokeh
Bagi anda yang penasaran ingin melihat seberapa baik lensa ini dalam membuat out of focus atau blur pada background (biasa disebut dengan bokeh), tampaknya kami akan membuat anda kecewa. Adalah hal yang wajar bila lensa ekonomis punya bokeh yang biasa saja, bahkan belum sanggup membuat latar yang benar-benar blur. Untuk bokeh sesungguhnya, tentu lensa fix apalagi yang bukaannya besar lebih cocok. Berikut contohbokeh yang dihasilkan lensa 18-105mm pada posisi 105mm dan pada bukaan maksimum f/5.6. Sebagai pembanding kami tampilkan hasil foto dari lensa Nikon fix khusus makro seharga hampir 10 juta rupiah, AF-S 105mm VR micro dengan bukaan f/2.8.
AFS 105 bokeh
Tentu saja dari perbandingan di atas tampak kalau kedua lensa memiliki bokeh yang jauh berbeda, meski digunakan pada fokal yang sama yaitu 105mm. Pada lensa 18-105mm samar-samar masih tampak bentuk latar yang berupa dedaunan, namun pada lensa 105mm micro, latar sudah sangat blur sehingga sulit ditebak kira-kira benda apa yang ada di belakangnya. Baik dalam hal bukaan diafragma (f/5.6 melawan f/2.8) ataupun dalam hal harga, kedua lensa yang diuji di atas jelas berbeda kelas, maka itu wajar bila hasilnya pun berbeda. Kemampuan bokeh lensa 18-105mm ternyata tak banyak berbeda dengan lensa kit lain semisal 18-55mm.

Kesimpulan

Banyak orang yang mencari sebuah lensa yang bisa dipakai untuk kebutuhan fotografi dasar sehari-hari, dengan ciri ukuran kecil, rentang fokal yang lebar (wide hingga tele), ada sistem VR, optiknya bagus dan tentu harganya terjangkau. Keuntungan bagi anda yang memakai DSLR Nikon adalah banyaknya pilihan lensa yang masuk dalam kriteria ini, seperti lensa kit D70 yang legendaris (18-70mm namun tanpa VR), 16-85mm VR hingga 18-200mm VR. Nah, lensa 18-105mm VR ini pun mampu menjadi salah satu pilihan yang menarik karena memenuhi semua kriteria yang kami tuliskan di atas.
Sebagaimana layaknya lensa walk-around pada umumnya, lensa ini juga bukanlah lensa high performance yang dicari para profesional. Sebutlah karena material mountingnya yang terbuat dari plastik, bukaan diafragmanya yang tergolong lambat, tidak kompatibel dengan format FX / full frame, hingga cacat distorsinya yang tampak jelas membuat garis jadi melengkung. Selain masalah di atas, lensa ini merupakan lensa yang praktis dan bisa diandalkan untuk menghasilkan foto-foto yang indah, warna yang natural, kontras dan ketajaman yang tetap terjaga pada sepanjang rentang fokal.
Sebagai penutup, kesimpulan dan saran kami terhadap lensa 18-105mm VR ini adalah :
  • dalam banyak hal lensa ini sedikit lebih baik dari lensa kit pada umumnya (rentang fokal lebih lebar,  lebih mantap digenggam, ring manual fokus lebih presisi dan diameter filter lebih besar)
  • lensa ini cocok untuk anda yang mencari lensa travelling (dipakai jalan-jalan) yang ringkas dan ringan berkat rentang fokalnya yang ekuivalen dengan 27-157mm
  • lensa ini bisa dipilih bila anda tidak ingin memiliki lensa 18-200mm VR (entah karena mahal atau karena berat) meski tentu fokal 105mm hingga 200mm tak mungkin dijangkau oleh lensa ini
  • bila anda mau menambah dana untuk mencari lensa yang lebih ’serius’ daripada lensa ini, bisa pertimbangkan AF-S 16-85mm VR yang punya mount logam, meski secara kualitas optik keduanya hampir sama dan sama-sama bukan lensa cepat
  • bila mau menambah lensa tele sebagai pelengkap lensa ini, bisa coba memakai AF-S 70-300mm VR (meski nantinya jadi ada sedikit overlap range di 70-105mm)
  • lensa ini tidak cocok untuk anda yang sering memotret benda-benda dengan garis tegas karena distorsi lensa ini yang cukup parah
  • lensa ini cukup nyaman bila ingin mencoba manual fokus karena ring manual fokusnya cukup presisi
  • lensa ini kurang cocok untuk penggemar landscape murni yang perlu ketajaman di semua bidang foto
  • lensa ini kurang cocok untuk penggemar bokeh yang creamy, untuk itu gunakan lensa fix
  • lensa ini lumayan cocok untuk yang suka candid, jurnalistik atau sport karena motor AF-nya lumayan cepat, plus VR yang efektif hingga 3 stop
  • bagi pemilik D40 – D5000, bila anda ingin upgrade dari lensa kit 18-55mm ke lensa ini, lakukan hanya jika anda merasa fokal 55mm dirasa kurang cukup untuk kebutuhan tele (karena secara kualitas optik keduanya relatif sama)
  • bagi pemilik D90 yang sudah paket dengan lensa kit 18-105mm ini, bila anda ingin menjual lensa kit ini dan lalu membeli lensa lain, pertimbangan terbaik adalah lensa 18-200mm VR.
Inilah review lensa 18-105mm VR yang bisa kamibuat untuk anda pemakai DSLR Nikon, dengan harapan bisa memberi gambaran sebelum anda memutuskan untuk membeli. Untuk pertanyaan, koreksi dan diskusi seperti biasa bisa melalui forum yang ada.
Read More »

Selasa, 08 November 2011

Nikon meluncurkan kamera mirrorless

0 komentar Diposting oleh A'an Setiawan at Selasa, November 08, 2011


Nikon 1 : nama baru untuk sistem kamera Nikon mirrorless


Setelah lama ditunggu, akhirnya Nikon memutuskan untuk ikut terjun di dunia kamera mirrorless, menyusul langkah Olympus, Panasonic, Sony dan Pentax yang lebih duluan lahir. Hal ini menepis anggapan kalau Nikon tidak akan mau membuat kamera mirrorless karena sudah nyaman dengan penjualan kamera DSLR mereka. Untuk langkah awal Nikon meluncurkan dua tipe kamera yaitu Nikon V1 dan Nikon J1 dengan lensa yang tentunya bisa dilepas. Seperti apa opini saya untuk sesuatu yang baru ini? Simak selengkapnya.
Nikon (dan juga Canon) adalah market leader kamera DSLR beserta segala jenis lensanya. Pesaing seperti Olympus, Pentax atau Sony tak banyak berharap untuk meraih share yang banyak di segmen DSLR. Bahkan Panasonic yang sempat membuat kamera DSLR pun seperti enggan untuk kembali membuat kamera serupa. Jadilah kesamaan nasib ini membuat mereka (Olympus, Panasonic, Sony, Samsung dan Pentax) memilih bersaing di segmen lain, yakni kamera mirrorless (entah apakah di masa mendatang Kodak atau Fuji akan ikut menyusul langkah serupa). Yang terjadi selanjutnya Nikon dan juga Canon terus ditekan dari segala arah. Pesaing yang membuat kamera mirrorless mulai menggerogoti share penjualan DSLR Nikon dan Canon. Di sisi lain, Nikon dan Canon fanboy (orang yang fanatik terhadap satu merk) menekan Nikon dan Canon untuk membuat kamera mirrorless supaya tidak kehilangan muka. Padahal Nikon atau Canon sadar betul kalau membuat kamera mirrorless justru akan membuat situasi semakin rumit karena DSLR mereka mungkin akan semakin kurang laku.
Tapi akhirnya Nikon memutuskan untuk mencoba peruntungannya dengan membuat konsep sistem kamera mirrorless baru yang unik dan membuat banyak pro dan kontra diantara para fotografer (kelihatannya sih lebih banyak yang kontra). Padahal berbeda dengan merk lain (misal Sony), Nikon tidak mungkin akan membuat kamera mirrorless  yang sama bagusnya dengan DSLR mereka. Maka itu yang terjadi adalah lahirnya sistem kamera dengan sensor yang kecil, bahkan masih lebih kecil dari kamera Micro Four Thirds dan dikenalnya crop factor baru yaitu 2,7 x.
Inilah spek teknis dari kamera Nikon mirrorless yang baru saja diluncurkan :
  • nama : Nikon 1
  • format kamera : mirrorless (tanpa cermin seperti di DSLR)
  • pilihan produk : J1 (kamera saku ekonomis) dan V1 (kamera saku premium)
  • nama mount lensa : Nikon CX
  • jenis sensor : CMOS
  • ukuran sensor : 13.2 x 8.8mm
  • crop factor : 2,7x
  • lensa kit : 1 Nikkor 10-30mm VR (setara 28-80mm)
  • lensa lain yang sudah tersedia : Lensa tele 30-110mm VR (setara 80-300mm), lensa fix 10mm dan lensa 10-100mm VR (setara 28-280mm).
Sebelum membahas kamera J1 dan V1, saya ingin menuliskan pendapat saya tentang Nikon 1 secara umum. Dari awal konsep kamera mirrorless memang bertujuan untuk menjadi alternatif dari DSLR yang besar dan berat. Maka itu kamera mirrorless tetaplah sebuah sistem kamera dengan jajaran lensa khusus yang dibuat untuk itu. Sedangkan untuk urusan sensor yang dipakai, para penggagas kamera jenis ini masih mengutamakan kualitas hasil foto yang sama dengan DSLR, sehingga sensor yang dipakai adalah berukuran sama seperti DSLR. Panasonic dan Olympus memakai sensor Four Thirds, bahkan Sony dan Samsung memakai sensor APS-C. Alhasil secara umum kamera mirrorless memiliki sensor besar yang punya dua keuntungan : ISO tinggi yang aman dari noise dan bokeh yang cantik.  Kejutan datang saat tiba-tiba Pentax  memperkenalkan kamera mirrorless Pentax Q yang memakai sensor kecil, ukurannya persis sama dengan kamera saku. Langkah Pentax menuai banyak kritik dan juga menyisakan banyak pertanyaan mengapa Pentax sampai melakukan hal itu. Sulit dipercaya akan ada orang yang mau membeli bodi kamera yang mahal, dengan berbagai pilihan lensa hanya untuk mendapat foto dengan hasil yang pas-pasan.
Nikon 1 hadir dengan mengisi celah antara kamera mirrorless bersensor Four Thirds (sensor besar) dan kamera Pentax Q (sensor kecil). Dari ukuran sensor yang dipilih Nikon, dihasilkan crop factor yang baru yaitu 2,7x bernama Nikon CX sehingga untuk mendapatkan lensa yang punya rentang fokal 28-80mm Nikon harus membuat lensa sangat wide yaitu 10-30mm. Padahal kubu Four Thirds yang punya 2x crop factor saja kesulitan untuk membuat lensa wide. Maka format CX ini memang lebih cocok untuk rentang fokal tele, terbukti lensa tele yang setara dengan 80-300mm cukup diwujudkan dengan membuat lensa 30-110mm saja. Keuntungan sensor Nikon 1 adalah memungkinkan untuk dibuat lensa yang berukuran lumayan kecil, seperti gambar di atas. Bandingkan dengan format Sony NEX yang lensanya saja sudah besar.
Ukuran sensor Nikon 1 yang lebih besar dari sensor kamera saku (lihat gambar di atas) bisa membawa keuntungan lain yaitu semestinya sanggup memberi hasil foto yang relatif bersih dari noise di ISO menengah (sampai dengan ISO 400). Setidaknya ISO 800 bisa dipakai bila terpaksa, dengan noise yang masih bisa ditolerir. Sebagai pembanding, kamera saku akan mulai noise di ISO 200, sedangkan kamera DSLR mulai noise di ISO 800. Tapi sensor Nikon 1 masih kurang memadai untuk mendapatkan kesan foto yang namanya bokeh atau latar belakang yang blur, meski memakai bukaan besar sekalipun.
Lalu untuk siapa Nikon membuat kamera mirrorless ini? Pada dasarnya bukan hal yang mudah untuk meminta para fotografer beralih dari DSLR ke kamera mirrorless. Alasan utama adalah harga kameramirrorless yang bahkan masih lebih mahal dari kamera DSLR pemula. Alasan lain adalah kurangnya pilihan lensa dan tidak semua orang rela meninggalkan kenyamanan mengintip melalui jendela bidik optik. Nikon sadar betul akan hal itu dan dari awal tidak menargetkan para pecinta DSLR Nikon untuk memiliki Nikon 1. DSLR Nikon ditujukan untuk mereka yang hobi fotografi sampai fotografer kelas pro, sedang Nikon 1 lebih diposisikan sebagai pengisi celah antara kamera saku dan DSLR. Maka itu saya menyimpulkan kalau Nikon 1 akan disukai oleh mereka yang tidak ingin memiliki DSLR (mungkin karena ukurannya atau karena tidak ingin pusing memilih lensa), mereka yang mencari kamera kecil yang lensanya bisa dilepas namun hasilnya tetap memenuhi standar, atau mereka yang ingin punya kamera yang sama baiknya untuk foto maupun video namun tetap mudah digunakan (point and shoot).
Bila anda ingin mengenal lebih dekat dengan keluarga baru Nikon ini, berikut saya sampaikan juga spesifikasi keduanya :
Nikon J1
  • sensor 10 MP CMOS
  • 73 titik AF (hybrid-dengan deteksi fasa dan deteksi kontras) tercepat di dunia
  • prosesor dual core Expeed 3
  • layar 3 inci, 461 ribu piksel
  • ada manual mode dan RAW tapi diakses lewat menu
  • burst 10 fps
  • ISO 100-3200, bisa ditingkatkan sampai ISO 6400
  • lampu kilat dengan Guide Number 5
  • full HD video, audio stereo, H.264
  • baterai EN-EL20, bisa hingga 230 kali jepret
  • dijual seharga 6 jutaan dengan lensa kit 10-30mm
Nikon V1 sama seperti J1 kecuali :
  • bodi berbalut magnesium-alloy
  • resolusi layar 900 ribu piksel
  • ada jendela bidik elektronik dengan resolusi tinggi
  • ada shutter mekanik
  • tidak ada lampu kilat built-in
  • ada input untuk mikrofon stereo
  • baterai EN-EL15, bisa sampai 400 kali jepret
  • dijual seharga 8 jutaan dengan lensa kit 10-30mm
Hal lain yang bisa saya tambahkan, Nikon membolehkan pemilik lensa Nikon AF-S untuk dipasang di bodi Nikon 1 asal membeli sebuah adapterkhusus. Tapi tidak halnya dengan pemilik flash Nikon, untuk bisa memasang flash di Nikon V1 perlu membeli lampu kilat SB-N5 seharga 1 jutaan yang bisa dipasang di Accesory Port. Untungnya flash SB-N5 ini serba bisa, yaitu berfungsi sebagai flash dan LED untuk rekam video. Kepala flashnya juga bisa diputar kiri kanan maupun ke atas bawah untuk teknik bouncing / menembakkan flash ke langit-langit. Uniknya, meski flash ini adalah eksternal namun tidak memiliki baterai sehingga dalam bekerja dia mengambil daya dari baterai yang ada di kamera.
Semuanya kembali ke pasar. Pasarlah yang akan menentukan apakah Nikon 1 akan sukses atau gagal. Dengan harga jualnya, kita bisa memilih DSLR kit seperti Nikon D5100 atau mirrorless lain seperti Lumix GF-3 atau Olympus E-PL3. Persaingan bakal ketat, tapi Nikon bukan tanpa persiapan untuk terjun di dunia baru ini. Nikon bahkan sudah mempersiapkan berbagai lensa dan aksesori khusus untuk format ini. Kalaupun Nikon 1 akan gagal, setidaknya Nikon sudah mencoba. Bagaimana dengan sikap yang akan diambil si musuh bebuyutan Nikon yaitu Canon, apakah berani membuat kameramirrorless atau cukup menikmati larisnya penjualan trio EOS baru mereka (1100D-600D-60D), kita tunggu saja.

Read More »

Tag

ilmu (8) ilmu fotografi (9) info kamera (4) Musik (2) Pendidikan (11) Pengetahuan Umum (39) PSIKOLOGI (35) Softwere (3)
 
© 2012 SOFTECHNOGEEK | Modifikasi dan Publikasi Kodokoala. All Rights Reserved.