Download

Rabu, 30 Maret 2011

Low Light Focusing pada camera olympus

0 komentar Diposting oleh A'an Setiawan at Rabu, Maret 30, 2011

Mengatasi Low Light Focusing pada camera olympus

Apabila AF gagal membuat keputusan, kamera gagal locking focus, akhirnya kamera tidak akan mau capture. Ada beberapa cara yang mungkin bisa di gunakan untuk mengatasi hal tersebut:
Ø        gunakan AF untuk mencari focus.
Ø        Hidupkan release priority mode "ON". Default dari kamera adalah release priority "off". Dalam keadaan default, apabila kamera gagal mengunci focus (locked), shutter tidak bekerja dan gambar tidak terambil. Dengan release priority "ON" maka sekalipun kamera gagal mengunci focus, kamera tetap akan mengambil gambar. Setting release priority ini bisa ditemukan di menu (kunci Inggris no 1). Release priority S maksudnya dalam mode S-AF, sedang release priority C dalam mode C-AF.
Ø        AF di kamera Olympus sangat akurat, akibatnya saat sensor AF ragu-ragu untuk mengunci focus maka kamera tidak berani memerintahkan shutter untuk bekerja, akhirnya kamera tidak akan mau capture. Disinilah peran fotografer yang sebenarnya. Perlu kejelian apakah gambar di View Finder itu sudah tajam atau belum. Jadi saat di View Finder sudah tajam, pencet penuh saja tombol shutternya.
Ø        Gunakan programable button semacam tombol ok di E300 dan E-1. Set fungsi tombol ok ke MF-> AF. Gunakan mode MF. Untuk focusing pencet tombol "ok" dan kalau yakin sudah focus pencet shutter. Kalau kurang yakin adjust dengan ring focus. Untuk mode ini, pada saat focus terkunci, anda tidak akan mendengar suara beep, hanya indikator focus akan menyala (di View Finder). Kalau subjek anda berada pada focal plane yang sama, maka anda bisa menembaki mereka tanpa perlu focusing lagi
Ø        Alternatif lain adalah menggunakan mode SAF+MF. AF bekerja dengan 1/2 shutter. Kalau focus bisa dikunci langsung pencet shutter penuh, kalau gagal terkunci lakukan adjustment dengan memutar ring focus dan setelah yakin baru pencet shutter penuh. Susahnya adalah tiap kali kita melepas shutter dan pencet 1/2 shutter maka AFnya akan kerja lagi.
Ø        Pada kamera Olympus saat menggunakan AF kadang terasa agak lelet, untuk menyiasatinya ada beberapa cara yang mudah dilakukan :
1.        Kalau sedang di posisi zoom in, coba zoom out dulu sedikit, lalu lakukan AF ke daerah dekat objek yg ingin dipotret, setelah itu zoom in kembali dan lakukan AF ke objek utama.
2.        Saat kesulitan mencari fokus, coba lihat daerah paling kontras di sekitar objek, coba dulu cari fokus kesitu, biasanya AF lebih mudah dilakukan ke daerah yg kontras, baru setelah itu posisikan AF ke objek utama, hal ini juga bisa mempercepat memperoleh focus.
3.        Gunakan mode release priority S "ON", karena kalau kita pencet shutter sampai bablas, kamera akan tetap ambil gambar sekalipun focusnya belum terkunci.

Read More »

Rabu, 20 Mei 2009

PENGERTIAN LAYANAN KONSELING RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY

0 komentar Diposting oleh A'an Setiawan at Rabu, Mei 20, 2009
PENGERTIAN LAYANAN KONSELING RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY
Konseling rational emotive behavior atau lebih tepatnya disebut rational emotive behavior therapy ( REBT) dikembangkan oleh Albert Ellis pada tahun 1962. Rasional emotive adalah aliran yang berusaha memahami manusia sebagaimana adanya. Manusia adalah subjek yang sadar akan dirinya dan sadar akan objek-objek yang dihadapinya. Manusia adalah makhluk berbuat dan berkembang dan merupakan individu dalam satu kesatuan yang berarti manusia bebas, berpikir, bernafas, dan berkehendak. (Willis, 2004 : 75)
Menurut Ellis (dalam Latipun, 2001 : 92) berpandangan bahwa REBT merupakan terapi yang sangat komprehensif, yang menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan emosi, kognisi, dan perilaku. Ada 3 hal yang terkait dengan perilaku, yaitu :
a) Antecedent event (A) merupakan peristiwa pendahulu yang berupa fakta, peristiwa, perilaku, atau sikap orang lain.
b) Belief (B) adalah keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa . Belief ada 2 yaitu rasional belief (rB) dan irrasional belief (iB)
c) Emotional consequen merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang, hambatan emosi dalam hubungannya dengan Antecedent event (A)
Dalam buku Psikologi konseling dan terapy, Corey memberinama REBT dengan RET. Menurut Corey (2005: 241) RET adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dengan jujur maupun untuk berpikir irrasional dan jahat.
Pendekatan rational emotive merupakan konseling yang menekankan kebersamaan antara berpikir dengan akal sehat (rational thinking), berperasaan (emoting), dan berperilaku (acting), serta sekaligus menekankan bahwa suatu perubahan yang mendalam dalam cara berpikir dapat menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku (Winkell, 1997 : 429).
Berdasarkan pada apa yang telah dijelaskan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa konseling REBT adalah suatu bentuk bantuan terhadap klien melalui konseling individu yang berusaha memahami manusia sebagaimana adanya yang berhubungan dengan emosi, kognisi, dan perilaku yang memiliki potensi untuk berpikir rasional maupun irrasional dan konseling REBT ini merubah keyakinan irrasional menjadi rasional.
2. Perilaku Bermasalah
Perilaku yang salah adalah perilaku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. Menurut Elliz (Latipun, 2001: 95) mengemukakan indikator keyakinan irrasional yang berlaku secara universal. Indikator-indikator orang yang berkeyakinan irrasional tersebut sebagai berikut :
a) Pandangan bahwa suatu keharusan bagi orang dewasa untuk dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan
b) Pandangan bahwa tindakan tertentu adalah mengerikan dan jahat, dan orang yang melakukan tindakan demikian sangat terkutuk
c) Pandangan bahwa hal yang mengerikan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada diri kita
d) Pandangan bahwa kesengsaraan manusia selalu disebabkan oleh faktor eksternal dan kesengsaraan itu menimpa kita melalui orang lain atau peristiwa
e) Pandangan bahwa jika sesuatu itu (dapat) berbahaya atau menakutkan, kita terganggu tidak akan berakhir dalam memikirkan
f) Pandangan bahwa kita lebih mudah menghindari berbagai kesulitan hidup dan tanggung jawab daripada berusaha untuk menghadapinya
g) Pandangan bahwa kita secara absolut membutuhkan sesuatu dari orang lain atau orang asing atau yang lebih besar dari pada diri sendiri sebagai sandaran
h) Pandangan bahwa kita seharusnya kompeten, intelegen, dan mencapai dalam semua kemungkinan yang menjadi perhatian kita
i) Pandangan bahwa karena segala sesuatu kejadian sangat kuat pengaruhnya terhadap kehidupan kita, hal itu akan mempengaruhi dalam jangka waktu yang tidak terbatas
j) Pandangan bahwa kita harus memiliki kepastian dan pengendalian yang sempurna atas suati hal
k) Pandangan bahwa kita sebenarnya tidak mengendalikan emosi kita dan bahwa kita tidak dapat membantu perasaan yang mengganggu pikiran
l) Pandangan bahwa kebahagiaan manusia dapat dicapai dengan santai dan tanpa berbuat
Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perilaku yang salah pada manusia didasarkan pada cara berpikir irrasional. Cara berpikir irrasional merupakan kenyataan hidup manusia yang terbentuk melalui pengalaman-pengalaman serta proses belajar yang tidak logis yang diperoleh dari orang tua, keluarga, masyarakat dan kebudayaan.
Nelson-Jones (Latipun, 2001: 97) menjelaskan bahwa karakteristik cara berpikir irrasional yang dapat dijumpai secara umum yaitu : (a) terlalu menuntut, hasrat, pikiran, dan keinginan yang berlebihan membuat individu mengalami hambatan emosional; (b) generalisasi secara berlebihan, berarti individu mengingat sebuah peristiwa atau keadan diluar batas-batas yang wajar; (c) penilaian diri, seseorang harus bisa menerima dirinya tanpa syarat; (d) penekanan, penekanan ini akan mempengaruhi individu dalam memandang antecedent event secara tepat dan karena itu digolongkan sebagai cara berpikir irrasional; (e) kesalahan atribusi, kesalahan dalam menetapkan sebab dan motivasi perilaku baik dilakukan sendiri, orang lain, atau sebuah peristiwa; (f) anti pada kenyataan, terjadi karena tidak dapat menunjukkan fakta empiris secara tepat; (g) repetisi, keyakinan yang irrasional cenderung terjadi berulang-ulang.
3. Tujuan Konseling Rational Emotive Behavior Therapy
Dalam konteks teori kepribadian, tujuan konseling merupakan efek yang diharapkan terjadi setelah dilakukan intervensi oleh konselor. Efek yang dimaksud adalah keadaan psikologis yang diharapkan terjadi pada klien setelah mengikuti proses konseling
Tujuan konseling menurut Ellis (Latipun, 2001: 101) pada dasarnya membentuk pribadi yang rasional, dengan jalan mengganti cara-cara berpikir yang irrasional. Ada 3 tingkatan insight yang perlu dicapai dalam REBT menurut Gilland, dkk (Latipun, 2001: 101) yaitu :
a) Pemahaman (insight) dicapai ketika klien memahami tentang perilaku penolakan diri yang dihubungkan pada penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima yang lalu dan saat ini.
b) Pemahaman terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang mengganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irrasional terus dipelajari dan yang diperoleh sebelumnya
c) Pemahaman dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hambatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan “melawan” keyakinan yang irrasional
Menurut Willis (2004 : 76) tujuan rational emotive behavior untuk memperbaiki dan mengubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan klien yang irrasional menjadi rasional, sehingga ia dapat mengembangkan diri dan mencapai realisasi diri yang optimal, menghilangkan gangguan emosional yang dapat merusak diri seperti benci, takut, cemas sebagai akibat yang irrasional, dan melatih serta mendidik klien agar dapat menghadapi kenyataan hidup secara rasional dan membangkitkan kepercayaan diri, nilai-nilai, dan kemampuan diri.
Aktivitas-aktivitas terapeutik utama Therapy Rational Emotive dilaksanakan dengan satu maksud utama : membantu klien untuk membebaskan diri dari gagasan-gagasan yang tidak logis dan untuk belajar gagasan-gagasan yang logis sebagai penggantinya. Sasarannya adalah menjadikan klien menginternalisasi suatu filsafat hidup yang rasional sebagaimana dia menginternalisasi keyakinan-keyakinan dogmatis yang irrasional dan takhayul yang berasal dari orang tua maupun dari kebudayaannya.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan konseling Rational Emotive Behavior Therapy yang utama adalah mengubah cara berpikir irrasional menjadi cara berpikir rasional sehingga terbentuk pribadi yang rasional pada individu. Siswa yang mempunyai sifat dan perilaku rendah diri yang dipengaruhi cara berpikir irrasional diharapkan mampu mengubah cara berpikir irrasional tersebut sehingga mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan meningkatkan interaksi sosial sehingga dapat berkembang secara optimal.
4. Teknik-teknik dalam Konseling Rational Emotive Behavior Therapy
Ellis (Corey, 2005 : 255) menunjukkan bahwa penggunaan metode-metode terapi tingkah laku seperti pelaksanaan pekerjaan rumah, desensitisasi, pengendalian operan, hipnoterapi, dan latihan asertif cenderung digunakan secara aktif direktif dimana terapis lebih banyak berperan sebagai guru daripada pasangan yang berelasi secara intens.
Teknik-teknik konseling REBT menurut Willis (2004 : 78) adalah teknik yang berusaha menghilangkan gangguan emosional yang merusak diri yang meliputi :
a) assertif training, melatih dan membiasakan klien terus-menerus menyesuaikan diri dengan perilaku tentang yang diinginkan.
b) sosiodrama yaitu semacam sandiwara pendek tentang masalah kehidupan sosial.
c) Self modeling yaitu teknik yang bertujuan menghilangkan perilaku tertentu dimana konselor menjadi model, dan klien berjanji akan mengikuti.
d) teknik reinforcement, memberi reward terhadap perilaku rasional atau memperkuatnya.
e) desensitisasi sistematik merupakan teknik relaxsasi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif.
f) Relaxation.
g) self control yaitu dengan mengontrol diri.
h) diskusi;
i) simulasi dengan bermain peran antara konselor dengan klien.
j) homework assigment (metode tugas).
k) bibliografi (memberi bahan bacaan).

DAFTAR PUSTAKA

Corey Gerald. 2003. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Terjemahan E.Koeswara. Bandung: Refika Aditama.

Latipun. 2001. Psikologi Konseling. Malang: UMM Pres.

Willis, S. Sofyan. 2004. Konseling Individual Teori dan Praktek. Bandung : CV. Alfabeta.

Read More »
 
© 2012 SOFTECHNOGEEK | Modifikasi dan Publikasi Kodokoala. All Rights Reserved.