Download

Minggu, 20 November 2011

Penyesuaian Diri

1 komentar Diposting oleh A'an Setiawan at Minggu, November 20, 2011

1.      Pengertian penyesuaian diri
Pengertian penyesuaian diri pada awalnya berasal dari suatu pengertian yang didasarkan pada ilmu biologi yang di utarakan oleh Charles Darwin yang terkenal dengan teori evolusinya. Ia mengatakan:  "Genetic changes can improve the ability of organisms to survive, reproduce, and, in animals, raise offspring, this process is called adaptation". Sesuai dengan pengertian tersebut, maka tingkah laku manusia dapat dipandang sebagai reaksi terhadap berbagai tuntutan dan tekanan lingkungan tempat ia hidup seperti cuaca dan berbagai unsur alami lainnya. Semua mahluk hidup secara alami dibekali kemampuan untuk menolong dirinya sendiri dengan cara menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan materi dan alam agar dapat bertahan hidup. Dalam istilah psikologi, penyesuaian (adaptation dalam istilah Biologi) disebut dengan istilah adjusment. (http://www.e-psikologi.com).
Jadi penyesuaian diri merupakan kemampuan individu untuk berada pada suatu lingkungan yang wajar. Dengan penyesuaian diri individu diharapkan mampu dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan, ketegangan- ketegangan, fustasi dan konflik-konflik yang dihadapinya. Selain itu diharapkan juga individu selalu berusaha untuk dapat diterima oleh lingkungan dan menjaga keharmonisan hubungan dengan lingkungan dimana ia berada.
Penyesuaian diri akan terus berlangsung terus menerus sesuai dengan tingkat perkembangan aindividu itu sendiri dalam menghadapi lingkungan. Dengan demikian individu sepanjang hidupnya akan selalu melakukan penyesuaian diri baik dengan lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Masalah penyesuaian diri buakanlah masalah sederhana tetapi masalah yang menyangkut seluruh aspek keperibadian individu. Individu adalah sesuatu yang unik dan dinamik, tumbuh dan berkembang terus-menerus serta memiliki macam-macam kebutuhan.
2.      Faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri dipengaruhi oleh faktor-faktor baik fisik maupun psikis dan faktor eksterknal berupa kondisi lingkungan baik social, alam, kebudayaan, serta agama. Menurut Sunarto dan Hartono (2006:229) menyatakan bahwa penyesuaian diri dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut:
a.       Kondisi jasmaniah
b.      Perkembangan dan kematangan, terutama kematangan emosional, intelektual dan sosial
c.       Penentu psikolagis yang meliputi pengalaman belajar, pembiasaan, determinasi diri, frustasi, dan konflik
d.      Kondisi lingkungan terutama rumah, keluarga, dan sekolah
e.       Penentu kultural dan agama
Dari pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi penyesiaian diri adalah faktor eksternal dan internal individu. Faktor individu meliputi pembawaan, kebutuhan pribadi, kondisi jasmaniah, perkembangan dan kematangan.  Sedang faktor eksternal individu adalah lingkungan, baik keluarga, lembaga, maupun masyarakat.
3.      Karakteristik Penyesuaian Diri
Individu yang melakukan penyesuaian diri terhadap kondisi ligkungan diharapkan akan menimbulkan terjadinya keharmonisan dalam hidupya. Tetapi sering terjadi keharmonisan yang timbul itu hanya bersifat nisbi, sehingga akan menimbulkan hambatan bagi perkembangan dalam kehidupan individu tersebut.
Oleh karena itu, maka dapat diketahui bahwa karakteristik penyesuaian diri itu ada yang positif dan ada yang negatif. Masing-masing penyesuaian diri tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.       Penyesuaian diri yang positif
Hurlock (dalam Yusuf, 2000:130-131) penyesuaian yang sehat ditandai:
1)      Mampu menilai diri secara realistik
Individu yang sehat mampu menilai dirinya sebagai mana apa adanya baik kelebihan maupun kekurangan yang menyangkut fisik dan kemampuannya.
2)      Mampu menilai situasi secara realistik
Individu menghadapi situasi atau kondisi secara realistik dan menerimanya secara wajar.
3)      Mampu memiliki prestasi yang diperoleh secara realistik
Individu dapat menilai prestasinya secara realistic dam meraeksinya secara rasional. Dia tidak akan menjadi sombong, angkuh atau menjadi frustasi bila mengalami kegagalan.
4)      Menerima tanggung jawab
Individu ini mempunyai keyakinan terhadap kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dialaminya.
5)      Kemandirian
Individu mempunyai sifat mandiri dalam berperilaku an bertindakserta dalam pengambilan keputusan dan mengembangkan diri seta menyesuaiakan diri secara konstruktif dengan norma yang berlaku di lingkungan.
6)      Dapat mengontrol emosi
Individu dapat menghadapi situasi frustasi secara positif
7)      Penerimaan sosial
Individu dinilai positif oleh orang lain, mau berpartisipasi aktif dalam lingkungan sosial dan memiliki sifat bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
8)      Memilki filsafat hidup
Dia mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari keyakinan agama.
4.      Kriteria Keberhasilan Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri yang berhasil menurut Fitri (http://tribk06.multiply.com) adalah sebagai berikut:
a.       Bilamana dengan sempurna memenuhi kebutuhan, tanpa melebihkan yang satu dengan dan mengurangi yang lain.
b.      Bilamana tidak menganggu manusia lain dalam memenuhi kebutuhan yang sejenis.
c.       Bilamana bertanggung jawab terhadap masyarakat dimana ia berada (saling mneolong secara positif).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa keberhasilan dalam penyasuaian diri akan ditandai dengan:
a.       Dapat diterima dalam kelompok serta dapat berpartisipasi dalam melaksanakan tanggung jawab sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam kelompok.
b.      Mampu memenuhi segala jenis kebutuhannya tanpa mengganggu tanggung jawabnya sebagai anggota kelompok.
c.       Adanya rasa puas dan bahagia karena dapat turut ambil bagian dalam aktivitas kelompok ataupun dalam hubunggannya dengan teman atau orang dewasa.
d.      Memperlihatkan sikap dan perilaku yang menyenangkan terhadap orang lain dan mendapat reaksi setuju dari anggota kelompok atau masyarakat.
Kegagalan dalam penyasuaian diri akan ditandai dengan:
a.       Adanya rasa tidak puas yang mendalam dalam bentuk perasaan kecewa, gelisah, lesu, depresi, dan sebagainya.
b.      Adanya kerja atau kegiatan yang tidak efisie, misalnya siswa gagal dalam pelajaran di sekolah.
c.       Adanya gejala pusing kepala, sakit perut, gangguan pencernaan dan sebagainya.
d.      Mendapat reaksi tidak setuju dari kelompok atau masyarakat.
Individu yang berhasil dalam meny3esuaikan diri akan merasa puas dan bahagia, perasaan tersebut akan mendorong individu berpartisipasi dan menjalankan peranannya sebagai anggota kelompok dengan memperhatikan norma-norma yang berlaku dalam kelompoknya.
5.      Bentuk-bentuk Penyesuaian Diri
a.       Penyesuaian diri positif
Menurut Daeng Am (http://edukasi.kompasiana.com) penyesuaian diri yang positif ditandai dengan hal-hal sebagai berikut:
1)      Tidak menunjukkan adanya ketegangan emosional.
2)      Tidak menunjukkan adanya mekanisme-mekanisme psikolagis
3)      Tidak menunjukkan adanya frustasi pribadi
4)      Memiliki pertimbangan rasional
5)      Mampu dalam belajar
6)      Menghargai pengalaman
7)      Bersifat realistik dan obyektif
Dalam melakukan penyesuaian diri secara positif, individu akan melakukannya dalam berbagai bentuk, antara lain :
a.       Penyesuaian dengan menghadapi masalah secara langsung
b.      Penyesuaian dengan melakukan eksplorasi
c.       Penyesuian dengan trial and error atau coba-coba
d.      Penyesuian dengan substitusi
e.       Penyesuaian diri dengan menggali kemampuan pribadi
f.       Penyesuaian dengan belajar
g.      Penyesuaian dengan inhibisi dan kontrol diri
h.      Penyesuaian dengan perencanaan yang cermat.
b.      Penyesuaian diri yang negatif
Adapun penyesuaian diri yang tidak sehat menurut Hurlock (dalam Yusuf : 2000) ditandai dengan:
1)      Mudah marah
2)      Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan
3)      Sering merasa tertekan
4)      Ketidakmampuan menghindari perilaku menyimpang
5)      Mempunyai kebiasaan berbohong
6)      Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
7)      Senang mencemooh orang lain
8)      Kurang memiliki rasa tanggung jawab
9)      Kurang memiliki kesadaran untuk mematuhi ajaran agama
10)  Bersikap pesimis dalam meghadapi kehidupan

Sumber:  
http://edukasi.kompasiana.com 
Read More »

Prestasi Belajar

0 komentar Diposting oleh A'an Setiawan at Minggu, November 20, 2011
a.      Pengertian Prestasi Belajar
Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam memperoleh prestasi. Menurut Suharsimi Arikunto (2000:16) mengemukakan bahwa: “Prestasi belajar adalah hasil kegiatan belajar siswa yang diterima dan dimiliki oleh siswa mengenai mata pelajaran”. Selanjutnya Winkel (1996:162) mengatakan bahwa “prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.” Sedangkan menurut S. Nasution (1996:17) prestasi belajar adalah:
“Kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni: kognitif, affektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut.”

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar.
b.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain: faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern), dan faktor yang terdiri dari luar siswa (faktor ekstern). Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri anak bersifat biologis sedangkan faktor yang berasal dari luar diri anak antara lain adalah faktor keluarga, sekolah, masyarakat dan sebagainya.
1)      Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun yang dapat digolongkan ke dalam faktor intern yaitu kecedersan/intelegensi, bakat, minat dan motivasi.
a)      Kecerdasan/intelegensi
Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebaya. Ada kalanya perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya, sehingga seseorang anak pada usia tertentu sudah memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan sebayanya. Oleh karena itu jelas bahwa faktor intelegensi merupakan suatu hal yang tidak diabaikan dalam kegiatan belajar mengajar.
b)      Bakat
Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sebagai kecakapan pembawaan. Ungkapan ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto (1986:28) bahwa “Bakat dalam hal ini lebih dekat pengertiannya dengan kata aptitude yang berarti kecakapan, yaitu mengenai kesanggupan-kesanggupan tertentu.” Kartono (1995:2) menyatakan bahwa “Bakat adalah potensi atau kemampuan kalau diberikan kesempatan untuk dikembangkan melalui belajar akan menjadi kecakapan yang nyata.” Menurut Syah Muhibbin (1999:136) mengatakan “bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan.”
Dalam proses belajar terutama belajat keterampilan, bakat memegang peranan penting dalam mencapai suatu hasil akan prestasi yang baik. Apalagi seorang guru atau orang tua memaksa anaknya untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan bakatnya maka akan merusak keinginan anak tersebut.
Dari pendapat di atas jelaslah bahwa tumbuhnya keahlian tertentu pada seseorang sangat ditentukan oleh bakat yang dimilikinya sehubungan dengan bakat ini dapat mempunyai tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu
c)      Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenai beberapa kegiatan. Kegiatan yang dimiliki seseorang diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa sayang. Menurut Winkel (1996:24) minat adalah “Kecenderungan yang menetap dalam subjek untuk merasa tertarik pada bidang/hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu.” Selanjutnya Slameto (1995:57) mengemukakan bahwa minat adalah “Kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan, kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus yang disertai dengan rasa sayang.” Kemudian Sardiman (1992:76) mengemukakan minat adalah “Suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atai arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri.”
Berdasarkan pendapat di atas, jelaslah bahwa minat besar pengaruhnya terhadap belajar atau kegiatan. Bahkan pelajaran yang menarik minat siswa lebih mudah dipelajari dan disimpan karena minat menambah kegiatan belajar. Untuk menambah minat seorang siswa di dalam menerima pelajaran di sekolah siswa diharapkan dapat mengembangkan minat untuk melakukannya sendiri. Minat belajar yang telah dimiliki siswa merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Apabila seseorang mempunyai minat yang tinggi terhadap sesuatu hal maka akan terus berusaha untuk melakukan sehingga apa yang diinginkannya dapat tercapai sesuai dengan keinginannya.
d)     Motivasi
Motivasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa untuk melakukan belajar. Persoalan mengenai motivasi dalam belajar adalah bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat ditingkatkan. Demikian pula dalam kegiatan belajar mengajar sorang anak didik akan berhasil jika mempunyai motivasi untuk belajar. Nasution (1995:73) mengatakan motivasi adalah “Segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.” Sedangkan Sardiman (1992:77) mengatakan bahwa “Motivasi adalah menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu.”
Dalam perkembangannya motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu (a) motivasi instrinsik dan (b) motivasi ekstrinsik. Motivasi instrinsik dimaksudkan dengan motivasi yang bersumber dari dalam diri seseorang yang atas dasarnya kesadaran sendiri untuk melakukan sesuatu pekerjaan belajar. Sedangkan motivasi ekstrinsik dimaksudkan dengan motivasi yang datangnya dari luar diri seseorang siswa yang menyebabkan siswa tersebut melakukan kegiatan belajar.
Dalam memberikan motivasi seorang guru harus berusaha dengan segala kemampuan yang ada untuk mengarahkan perhatian siswa kepada sasaran tertentu. Dengan adanya dorongan ini dalam diri siswa akan timbul inisiatif dengan alasan mengapa ia menekuni pelajaran. Untuk membangkitkan motivasi kepada mereka, supaya dapat melakukan kegiatan belajar dengan kehendak sendiri dan belajar secara aktif.
2)      Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang sifatnya di luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan keluarga, lingkungan sekitarnya dan sebagainya. Pengaruh lingkungan ini pada umumnya bersifat positif dan tidak memberikan paksaan kepada individu. Menurut Slameto (1995:60), “Faktor ekstern yang dapat mempengaruhi belajar adalah Keadaan keluarga, keadaan sekolah dan lingkungan masyarakat.”
a)      Keadaan Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Slameto bahwa: “Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama. Keluarga yanng sehat besar artinya untuk pendidikan kecil, tetapi bersifat menentukan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia.”
b)      Adanya rasa aman dalam keluarga.
Rasa aman membuat seseorang akan terdorong untuk belajar secara aktif, karena rasa aman merupakan salah satu kekuatan pendorong dari luar yang menambah motivasi untuk belajar. Dalam hal ini Hasbullah (1994:46) mengatakan:
“Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan pendidikan dan bimbingan, sedangkan tugas utama dalam keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan.”
Oleh karena itu orang tua hendaknya menyadari bahwa pendidikan dimulai dari keluarga. Sedangkan sekolah merupakan pendidikan lanjutan. Peralihan pendidikan informal ke lembaga-lembaga formal memerlukan kerjasama yang baik antara orang tua dan guru sebagai pendidik dalam usaha meningkatkan hasil belajar anak. Jalan kerjasama yang perlu ditingkatkan, dimana orang tua harus menaruh perhatian yang serius tentang cara belajar anak di rumah. Perhatian orang tua dapat memberikan dorongan dan motivasi sehingga anak dapat belajar dengan tekun. Karena anak memerlukan waktu, tempat dan keadaan yang baik untuk belajar.
c)      Keadaan Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa, karena itu lingkungan sekolah yang baik dapat mendorong untuk belajar yang lebih giat. Keadaan sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru dengan siswa, alat-alat pelajaran dan kurikulum. Hubungan antara guru dan siswa kurang baik akan mempengaruhi hasil-hasil belajarnya.
Menurut Kartono (1995:6) mengemukakan “Guru dituntut untuk menguasai bahan pelajaran yang akan diajarkan, dan memiliki tingkah laku yang tepat dalam mengajar.” Oleh sebab itu, guru harus dituntut untuk menguasai bahan pelajaran yang disajikan, dan memiliki metode yang tepat dalam mengajar.
d)     Lingkungan Masyarakat
Lingkungan juga merupakan salah satu faktor yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa dalm proses pelaksanaan pendidikan. Karena lingkungan alam sekitar sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak, sebab dalam kehidupan sehari-hari anak akan lebih banyak bergaul dengan lingkungan dimana anak itu berada.
Dalam hal ini Kartono (1995:5) berpendapat:
“Lingkungan masyarakat dapat menimbulkan kesukaran belajar anak, terutama anak-anak yang sebayanya”. Apabila anak-anak yang sebaya merupakan anak-anak yang rajin belajar, maka anak akan terangsang untuk mengikuti jejak mereka. Sebaliknya bila anak-anak di sekitarnya merupakan kumpulan anak-anak nakal yang berkeliaran tiada menentukan anakpun dapat terpengaruh pula.
Dengan demikian dapat dikatakan lingkungan membentuk kepribadian anak, karena dalam pergaulan sehari-hari seorang anak akan selalu menyesuaikan dirinya dengan kebiasaan-kebiasaan lingkungannya. Oleh karena itu, apabila seorang siswa bertempat tinggal di suatu lingkungan temannya yang rajin belajar maka kemungkinan besar hal tersebut akan membawa pengaruh pada dirinya, sehingga ia akan turut belajar sebagaimana temannya.
c.       Evaluasi Prestasi Belajar
Muhibin Syah (2001:21) berpendapat bahwa untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat prestasi belajar siswa dapat dilakukan evaluasi prestasi belajar dengan cara antara lain:

1)      Evaluasi Prestasi Kognitif
Evaluasi prestasi kognitif menggunakan keberhasilan siswa yang berdimensi kognitif (ranah cipta) dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti test tertulis atau test lisan dan perbuatan. Disebabkan oleh membengkaknya jumlah siswa di sekolah-sekolah test lisan dan perbuatan hampir tidak pernah digunakan lagi karena pelaksanaannya yang face to face.
2)      Evaluasi Prestasi Afektif
Dalam merencanakan penyususnan instrument test prestasi siswa yang berdimensi afektif (ranah rasa) jenis prestasi internalisasi dan karakterisasi sebaiknya mendapat perhatian khusus, karena kedua jenis prestasi ranah rasa itulah yang lebih banyak mengendalikan sikap dan perbuatan siswa.

3)      Evaluasi Prestasi Psikomotor
Cara yang dipandang cocok untuk mengevaluasi keberhasilan belajar yang berdimensi ranah pikomotor, tingkah laku atau fenomena lain dengan pengamatan langsung.

Adapun Subiyanto (2006:54) menyatakan bahwa:
“Evaluasi hasil belajar pembelajaran adalah suatu proses menentukan nilai prestasi hasil belajar pembelajaran dengan menggunakan patokan-patokan tertentu untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditentukan sebelumnya. Sebelum dilakukan evaluasi maka terlebih dahulu dilakukan pengukuran”.

Pengukuran ini merupakan salah satu kegiatan yang berada di dalam evaluasi, maka ketika orang mengevaluasi sebenarnya juga melakukan aktivitas pengukuran, evaluasi pendidikan, evaluasi belajar pembelajaran, juga mencakup pengukuran belajar pembelajaran.
Sedangakan Usman dan setiawati (1993:43) menggolongkan tiga macam prestasi belajar untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar, yaitu:

1)      Tes formatif
Penilaiannya ini digunakan untuk mengukur setiap satuan bahasa tertentu dan bertujuan hanya untuk memperoleh gambaran tentang daya serap siswa terhadap satuan bahasa tertentu. Hasil tes ini digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar bahan tertentu dalam waktu tertentu pula atau sebagai feed back (umpan balik) dalam memperbaiki proses belajar.
2)      Tes Subsumatif
Penilaian ini meliputi sejumlah bahan pengajaran atau satuan bahasan yang telah diajukan dalam waktu tertentu. Tujuannya ialah selain memperoleh gambaran daya serap, juga untuk menetapkan tingkat presrasi belajar siswa. Hasilnya diperhitungkan untuk menentukan raport.
3)      Tes Sumatif
Penilaian ini diadakan untuk mengukur daya serap siswa terhadap pokok bahasan yang telah diajarkan selama satu semester. Tujuannya ialah untuk menetapkan tingkat atau taraf keberhasilan belajar siswa dalam suatu periode belajar tertentu. Hasil dari tes ini dimanfaatkan untuk kenaikan kelas, menyusun peringkat (rangking) kelas atau sebagai ukuran kualitas sekolah.

Read More »
 
© 2012 SOFTECHNOGEEK | Modifikasi dan Publikasi Kodokoala. All Rights Reserved.